POST TERAKHIR
02 Februari 2010
REPOTNYA PPH PASAL 23
Mulai Januari 2010 banyak customer berbadan hukum memotong PPh Pasal 23 terhadap setiap pembayaran yang saya terima. Saya tidak keberatan, karena memang seharusnya seperti itu. Hanya saja, sebagian besar pemotong pajak sering suka-suka dalam melaksanakan kewajibannya.
Entah ide siapa, tarif PPh pasal 23 sewa kendaraan yang semestinya ditanggung penyedia jasa sebesar 2%, dipotong dari tagihan netto, oleh kebanyakan pemotong diubah menjadi 2%, dipotong dari tagihan netto setelah ditambah 3%.
Para staff yang minimal bergelar Sarjana Ekonomi itu selalu minta saya menambahkan 3% pada jumlah netto yang saya tagihkan. Alih-alih saya yang harus membayar pajak, justru mereka dengan sukarela mengambil oper porsi saya. Oleh sebab itu mereka juga menolak menerbitkan bukti potong pajak. Bukan cuma menggelikan, tapi luar biasa bego. Hebatnya, yang berbuat seperti itu justru perusahaan besar yang memiliki staff keuangan dan staff akuntansi berpendidikan.
Lebih konyol lagi, ketika saya mencoba memberi penjelasan bahwa PPh Pasal 23 adalah beban saya dan bisa langsung dipotongkan dari tagihan netto tanpa perlu ada tambahan 3%, mereka malah ngotot. Bahkan ada yang dengan sengitnya menyarankan supaya saya belajar pajak. Tidak sedikit pula yang heran, “Dibayarin pajaknya kok malah gak mau!”
Kalau sudah begitu saya mesti berlapang dada, supaya pembicaraan tidak menjadi tegang hanya lantaran ada yang tersinggung, merasa dianggap tidak tahu pajak.
Biasanya saya lalu menggunakan jurus intimidasi. Saya bilang, kalau nominal yang disetor tidak sesuai dengan tagihan netto yang sesungguhnya, mereka bisa dianggap berusaha mengelabuhi pajak. Jurus ini kebanyakan berhasil – bukti bahwa orang-orang itu memang tidak paham pajak.
Kalau ada diantara pembaca yang bingung, kenapa saya menolak PPh pasal 23 dibayar oleh customer, berikut ini penjelasannya:
Menurut peraturannya, PPh pasal 23 dipotong langsung sebesar 2% dari total tagihan netto (Tagihan brutto dikurangi discount – kalau ada). Kalau tagihan kemudian ditambah 3% sesuai permintaan customer, baru kemudian dipotong 2% untuk disetor sebagai PPh Pasal 23, maka setoran Pph itu menjadi tidak sesuai lagi dengan nominal tagihan netto dalam pembukuan.
Misalnya, tagihan netto sesungguhnya Rp 1 juta. Menurut peraturan, PPh yang dipotong dan disetor oleh customer mestinya sebesar Rp 20 ribu. Jumlah yang saya terima dari customer menjadi Rp 980 ribu. Di buku ditulis sebagai berikut:
- penjualan (atau piutang) Rp 1 juta (KREDIT)
- PPh pasal 23 Rp 20 ribu (DEBET)
- Kas atau piutang Rp 980 ribu (DEBET)
Neraca balans.
Kalau tagihan netto ditambah 3%, menjadi Rp 1.030.000, saat membuat invoice saja sudah muncul masalah. Angka Rp 30 ribu itu dari mana asalnya? Kalau berdasar rincian dalam invoice hanya ketemu tagihan sebesar Rp 1 juta, bagaimana pula cara menambahkan yang Rp 30 ribu?
Selanjutnya, sementara dalam pembukuan nilai penjualan tetap tercatat Rp 1 juta (kredit), sesuai hasil hitungan invoice, pada sisi debet terdapat setoran PPh pasal 23 sebesar Rp 21.000 dan penerimaan tunai (atau piutang) sebesar Rp 1 juta. NERACA TIDAK BALANS. Disamping itu, setoran PPh 23 sebesar Rp 21 ribu tidak klop dengan nilai penjualan yang hanya 1 juta.
Selisih sedikit untuk satu transaksi memang tidak berarti, tapi bagaimana kalau semua customer memotong PPh 23 dengan cara yang sama? Minimal neraca akhir tahun jelas tidak mungkin balans. Kalau di buku saja sudah kacau, bagaimana riilnya?
PREV - MABUK PAJAK - NEXT
08 Desember 2009
MENCARI BENIH BELUT
Saat pertamakali membeli bibit, hanya 2 kilo, saya mendapat benih campur aduk. Bayangan semula bakal mendapat bibit berkualitas langsung buyar begitu saya melihat ukuran benih yang tidak sama. Lebih hopeless lagi ketika kemudian saya mendapati beberapa anakan sudah loyo duluan sebelum dipindah ke jerigen angkut.
- Adanya cuma begitu, jadi beli apa tidak?
Saya segera sadar sudah keliru memilih tempat membeli benih. Kali berikutnya, setelah mendapat cukup informasi, saya membeli di tempat yang “kata orang” punya benih bagus. Walaupun tidak separah di tempat pertama, kondisi anakan di tempat kedua ini tetap tidak bisa dibilang bagus. Ukurannya tetap tidak seragam. Itu saja sudah membawa pengaruh cukup signifikan terhadap proses selanjutnya.
Kalau mencari benih 2 kilo saja saya harus berburu terlebih dahulu ke berbagai tempat sebelum nemu supplier yang baik hati bersedia menjual benih seperti yang saya kehendaki, bagaimana kalau nanti saya butuh benih dalam jumlah besar?
Masalahnya, para penjual benih itu juga pembudidaya yang menjual belut konsumsi. Benih-benih itu sebenarnya disiapkan untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan baru dijual kalau ada kelebihan. Celakanya, yang saya jumpai sampai saat ini, kebanyakan benih yang tersisa adalah benih yang tidak lolos seleksi. Hanya sedikit saja yang bisa dibilang berkualitas.
Sudah barang tentu saya tidak bisa menyalahkan mereka. Sudah bagus ada yang mau berbagi benih dengan saya. Kalau nantinya saya butuh benih berkualitas dalam jumlah besar, nampaknya tidak ada pilihan lain kecuali “memproduksi” benih sendiri.
Nah kalau untuk pembesaran saja urusannya tidak gampang, apalagi kalau membuat pembenihan. Saya belum bisa membayangkan.
Atau, mungkin memang sebaiknya tidak usah dibayangkan dulu, tapi langsung dikerjakan saja? Siapa tahu malah lebih gampang?
Untuk saat ini nampaknya saya memang harus bersyukur saja dulu, ada yang mau berbagi benih dan pengalaman. Lebih baik saya konsentrasi pada pembesara belut saja. Urusan benih dipikir sambil jalan.
Pernah suatu saat, senior yang baik hati itu memberi ide, sebaiknya saya konsentrasi sebagai produsen bibit saja. Pasarnya sangat besar. Bahkan beliau lebih senang kalau saya bisa memenuhi kebutuhan benihnya, sehingga beliau bisa konsentrasi pada budidaya pembesaran belut.
Saya menerima usulan itu, tapi tidak untuk sekarang. Untuk saat ini saya perlu prestasi riil dulu untuk memompa semangat yang sempat kembang kempis akibat beberapa kegagalan sebelumnya.
PREV - BUDIDAYA BELUT- NEXT
30 November 2009
MEMANG TIDAK SULIT, TAPI JUGA TIDAK GAMPANG
Dari berbagai pengalaman selama belajar budidaya, saya mendapati bahwa budidaya belut ternyata tidak segampang perkiraan semula. Bagian yang paling membutuhkan kesabaran, menurut saya, adalah saat proses membuat media. Bahkan ketika saya mengerjakan dengan komposisi bahan dan prosedur sesuai dalam buku referensi, tetap tidak berhasil.
Perlu beberapa kali percobaan dengan berbagai jenis bahan, termasuk menggunakan jurus setengah ngawur lantaran nyaris putus asa, sebelum akhirnya saya menemukan komposisi yang pas dengan kondisi lingkungan tempat saya melakukan budidaya.
Saya sangat yakin, kondisi lingkungan tempat bahan berasal serta kondisi lingkungan tempat budidaya sangat menentukan perbandingan bahan maupun susunan komposisi. Terbukti ketika saya pindah lokasi, “formula” yang semula saya anggap pas, ditempat baru ternyata tidak disukai belut.
Ketika kemudian saya menemukan komposisi yang pas, sesuai dengan kondisi lingkungan tempat budidaya, saya menghadapi kendala baru ketika kemudian berniat membuat media dalam jumlah lebih banyak. Salah satu komponen media yang sulit dicari dalam jumlah banyak adalah lumpur.
Kalau sekedar asal lumpur memang tidak sulit, tapi setelah saya mencari lumpur dengan kualitas tertentu, ternyata tidak mudah. Kalaupun barangnya tersedia, pemilik lahan tidak rela lumpur sawahnya diambil dalam jumlah banyak. Lalu ketika saya mencari ditempat lain, ternyata kualitasnya tidak sama.
Walaupun akhirnya saya bisa mengatasi masalah itu, tetap saja harus melalui beberapa kali uji coba yang menguras pikiran, tenaga, kantong, sekaligus butuh semangat pantang menyerah yang luar biasa.
Memang ada beberapa teman yang bernasib mujur, mendapat lokasi budidaya yang ideal, sehingga mereka tidak mengalami kesulitan seperti saya dalam menyiapkan media, namun ternyata mereka menghadapi kendala pada tahapan lain. Entah belutnya gampang terserang penyakit atau pertumbuhannya lambat. Pokoknya, pasti ada kendala yang harus diatasi sebelum akhirnya bisa bernafas lega.
Saya rasa, bagi para pemula memang sebenarnya tidak ada yang gampang. Tapi itu semata-mata hanya karena para pemula belum tahu bagaimana cara mengerjakan dengan benar. Setelah tahu, ya …. tetap saja tidak gampang.
Saya bilang tidak gampang. Bukan sulit. Soalnya saya tidak ingin memberi gambaran keliru seolah-olah budidaya belut bisa dikerjakan sambil lalu, segampang membalik telapak tangan. Lalu, ketika kemudian ada yang tidak berhasil, saya katut dituduh menipu.
PREV - BUDIDAYA BELUT- NEXT
08 November 2009
MEMBUAT MEDIA BELUT
Sejak awal saya sudah mendapat wejangan dari beberapa pakar belut, supaya cermat dalam mempersiapkan media. Menurut mereka, kualitas media sangat menentukan keberhasilan budidaya.
Menyiapkan media ternyata tidak gampang, walaupun juga tidak bisa dibilang sulit. Kalau kemudian menjadi sedikit membingungkan itu gara-gara saya terlalu getol mencari tambahan informasi. Mestinya saya ikuti saja petunjuk pembimbing saya tanpa banyak pertimbangan dan tidak usah mencari informasi pembanding. Tapi karena saya sedikit agak perfeksionis, alih-alih mendapat informasi tambahan, akhirnya malah jadi bingung ketika informasi yang saya dapat berbeda antara satu dengan yang lain..
Salah satu yang mengacau kecerdasan saya yang hanya pas-pasan ini adalah pemanfaatan enceng gondok. Yang tidak suka eceng gondok bilang kalau enceng gondok menghambat pertumbuhan plankton dan membuat media jadi keras. Sementara yang lain bilang enceng gondok berguna sebagai tempat persembunyian belut dan memperkecil fluktuasi temperatur air. Bingung dah. Akhirnya saya ganti kangkung. Tapi apa pengaruhnya terhadap belut, saya tidak bisa memantau.
Begitu juga dengan persiapan media. Setiap orang ternyata punya resep masing-masing. Lalu, sebelum terlanjur jadi idiot lantaran kebanyakan mikir, saya memberanikan diri mengambil kesimpulan sendiri. Pada percobaan pertama saya menggunakan jerami, lumpur sawah dan pupuk kandang sebagai bahan dasar media. Tanpa gedebog pisang, karena ada yang bilang kalau media yang dicampur gedebog pisang butuh waktu lebih lama untuk menjadi matang.
Sampai saat ini saya tidak tahu, apakah ramuan media yang saya pakai juga punya andil terhadap kegagalan pada percobaan pertama. Tapi sekedar untuk tidak mengulang kesalahan serupa, maka pada percobaan kedua saya sedikit mengubah komposisi bahan media, memakai rajangan gedebog pisang, jerami dan lumpur sawah. Tanpa pupuk kandang, tapi ditambah larutan dekomposer. Mengapa pakai dekomposer? Lha petunjuknya begitu, ya dituruti saja. Belum saatnya bagi saya untuk berimprovisasi. Daripada nanti panen belut goreng, lebih baik untuk sementara manut saja.
Sesuai petunjuk orang yang saya anggap tahu, jerami dan rajangan gedebog pisang diolah dulu di luar kolam. Kalau tidak salah dengar, difermentasikan dengan bantuan dekomposer. Caranya, saya buat petakan ukuran 2 x 2 meter dari kayu bekas kemasan. Taruh petakan di tempat kering, lalu campuran gedebog dan jerami di tuang ke dalam petakan kayu sampai ketinggian kira-kira 10 cm. Setelah itu larutan dekomposer disemprotkan ke atas permukaan bahan. Setelah semua permukaan disemprot secara merata, lapisan kedua diletakkan di atasnya, juga setinggi 10 cm, lalu disemprot lagi. Begitu seterusya sampai seluruh bahan habis. Terakhir, permukaan paling atas ditutup menggunakan karung goni. Lalu dibiarkan selama kurang lebih 1 bulan.
Setelah matang, media dicuci dengan cara direndam dalam air selama 7 hari. Selama masa perendaman, air diganti setiap hari. Pada akhir hari ke tujuh, air dikuras habis, kemudian media dibagi rata dalam tong, diberi larutan microstarter, ditambahkan lumpur sawah dan air, lalu diaduk sampai rata. Sampai disini persiapan media bisa dianggap selesai, tapi belum bisa dipakai. Masih harus nunggu kurang lebih 1 bulan lagi sampai media aman digunakan. Dan selama menunggu, setiap 2 minggu air diganti baru.
Kalau ada yang pengin tahu, larutan dekomposer itu apa? Saya tidak tahu. Yang jelas jangan coba-coba diminum. Itu saja. Dekomposernya sendiri berupa bubuk, lalu dicampur air dengan takaran 50 gram dekomposer dengan air satu jeriken ukuran 5 liter. Microstarternya saya juga tidak ngeh. Waktu itu saya terima saja apapun yang diberikan teman. Perbandingan medianya juga lupa tidak dicatat. Benar-benar konyol.
PREV - BUDIDAYA BELUT- NEXT
03 November 2009
PERSIAPAN TEHNIS SEBELUM BUDIDAYA BELUT DIMULAI
Langkah awal yang harus dikerjakan, ya bikin kolam. Mau menggunakan tong, terpal, semen atau tumpang sari di sawah, terserah yang penting jangan memakai wajan.
Sebenarnya, begitu pembuatan kolam mulai dikerjakan, kita bisa sekaligus mulai menyiapkan media dan pakan, supaya budidaya bisa start lebih cepat, segera panen dan cepat pula dapat untung gede. Maunya sih. Tapi sebaiknya jangan dilakukan.
Bagaimanapun juga, namanya belajar tetap lebih baik dilakoni step by step. Kehilangan duit bisa dicari lagi, tapi kalau sampai gagal gara-gara adu balap dengan nafsu keburu pengin kaya, membuat orang gampang putus asa.
Membuat kolam bisa suruhan orang, itu bukan ketrampilan tehnis yang wajib dimiliki oleh pembudidaya belut, tapi urusan pakan, memilih bibit dan terutama menyiapkan media, harus dipelajari betul. Jangan sampai belut Anda lebih suka pindah ke wajan ketimbang tinggal di kolam hanya gara-gara Anda malas belajar cara meramu media.
Menurut pengalaman saya, sebagian besar sukses budidaya belut sangat ditentukan oleh kualitas media. Selagi medianya cocok, belut tidak terlalu rewel. Menu makannya cukup belatung, cacing rambut atau keong emas cacah. Tidak perlu dikasih hamburger atau cap jay. Kalaupun terpaksa sampai dua atau tiga hari tidak dikasih makan – memangnya ditinggal ngungsi kemana? – belut masih bisa bertahan.
Karena belut lebih menyukai pakan segar, maka di sela-sela belajar meramu bahan media, sebaiknya disempatkan pula belajar mempersiapkan pakan. Yang ini bisa dipelajari lewat buku, karena budidaya cacing atau keong sangat mudah. Kesalahan apapun yangterjadi, kecuali tersiram minyak panas, cacing dan keong tetap mampu bertahan hidup dan berkembang biak.
Sedikit peringatan, seandainya sampai terpaksa harus membudidayakan keong emas, sebaiknya dijaga jangan sampai ada yang terlepas atau Anda akan mendapat pekerjaan baru, memburu keong yang berkembang biak subur dipekarangan. Meskipun keong emas lebih cocok hidup di sawah, bukan berarti mereka tidak bisa menginvasi pekarangan rumah dan mengacak-acak tanaman kesayangan anda.
PREV - BUDIDAYA BELUT- NEXT
20 September 2009
SEBENARNYA TIDAK SULIT
Walaupun dana saya mepet, kegagalan tidak pernah menjadi masalah buat saya. Semua sudah diperhitungkan. Yang mengganggu justru reaksi lingkungan. Teman-teman mentertawakan ide saya budidaya belut, yang mereka anggap konyol. Setelah kegagalan itu, saya selalu ketemu banyak konsultan dadakan yang memberi nasehat tentang sisi negatifnya budidaya belut. Tidak ketinggalan pula saya mendapat kiriman segepok artikel media masa yang mengulas potensi semu pasar belut. Intinya, menurut mereka, belut tidak layak dan tidak mungkin dibudidayakan. Dan – masih menurut mereka, saya terlalu bego sampai terbujuk oleh informasi sesat yang sengaja disebar oleh penyelenggara bisnis pelatihan.
Dari komunitas korban budidaya jangkrik saya pernah menerima kliping berita penipuan yang dilakukan oleh salah satu asosiasi peternak jangkrik terhadap berbagai pihak, termasuk beberapa pemerintah daerah. Karena tidak ada kelanjutannya, saya tidak tahu apakah berita itu benar atau sekedar black campaign dari para pesaing asosiasi. Tapi yang jelas, sampai saat ini saya masih menjumpai banyak pembudidaya jangkrik yang berhasil sukses, meskipun yang gagal justru jauh lebih banyak.
Kalau komoditi yang hanya dikonsumsi burung saja bisa memberi hasil, kenapa belut yang dikonsumsi manusia dibilang tidak layak? Diamping itu, saya gagal bukan lantaran hasil panen saya tidak laku, melainkan karena malas menyiapkan pakan alami.
Setelah semua kesalahan yang sekiranya saya lakukan dan mungkin akan saya lakukan lagi sudah lengkap didata dan dicari solusinya, saya memutuskan jalan terus. Sayang, dengan berbagai alasan, teman saya memilih mundur. Tanpa teman, dengan kendala psikologis yang tidak mudah diajak kompromi, budidaya belut jelas bukan sekedar sulit lagi bagi saya. Walaupun saya tetap akan mencincang bekicot sendiri, tapi saya butuh teman sekedar untuk berbagi merinding sebelum mulai menjagal.
Setelah hampir dua bulan mencari partner dan ternyata tidak nemu satupun yang saya anggap cocok, akhirnya saya memutuskan jalan sendiri. Benar saja, tanpa teman kerja, saya merasakan teror berlipat dibanding sebelumnya. Benar-benar tiada hari tanpa merinding. Adakalanya saya nyaris berhenti budidaya bukan karena mengalami kesulitan atau ogah pegang belut atau cacing, melainkan semakin iba melihat bekicot dan cacing-cacing yang harus saya bantai. Semakin lama menjadi algojo, saya justru menjadi semakin sensitif terhadap binatang.
Ingin rasanya mengupah orang untuk melakukan pekerjaan horor itu, meskipun secara finansial tidak layak karena hanya menghidupi belut dua tong saja. Tapi seperti biasa , saya merasa harus mengerjakan sendiri dulu sampai berhasil sebelum menyuruh orang lain. Bukan apa-apa. Saya tergolong orang cerewet, dan saya tidak mau nantinya ada yang ngomel, “biasanya omong doang!”
Kali ini saya benar-benar ketemu batunya. Belum pernah ada bisnis yang sampai makan hati seperti ini. Saya yang oleh banyak orang dijuluki kapitalis tulen lantaran tega menagih piutang sampai sen terakhir dibuat tidak berkutik oleh cacing dan bekicot. Pada akhirnya saya memang berhasil memaksa diri menyelesaikan pekerjaan sampai panen, tapi kemudian kehilangan semangat ketika tiba saatnya harus menjual hasil panen. Saya terima begitu saja uang yang diberikan oleh pembeli, tanpa dihitung lagi apakah nilainya sesuai dengan jumlah belut yang terjual.
Kali ini budidayanya berhasil, tapi secara keseluruhan saya justru merasa gagal.
PREV - BUDIDAYA BELUT- NEXT
02 September 2009
EMAS VOC
Menjadi bos bagi diri sendiri, pegang duit banyak, tanpa ada seorangpun yang mengontrol, bisa jadi bumerang. Godaan datang setiap saat. Kalau tidak tertib dan disiplin menahan diri, duit bisa terbang kesana kemari dan akhirnya ludes tanpa bekas. Atau paling tidak, perputaran usaha menjadi terseok-seok, hutang numpuk dan sulit membayar kewajiban.
Saya sedikit beruntung, godaan baru datang setelah saya punya sisa dana sebagai cadangan, sehingga tidak mengganggu kelancaran usaha. Tapi kalau diingat-ingat, tetap saja terasa konyol.
Suatu hari, salah satu pedagang sarang burung walet mampir ke rumah. Kali itu tidak membawa sarang burung, melainkan satu batang benda terbuat dari logam, berwarna kuning cerah, kurang lebih seukuran separo batu bata dibelah memanjang.
“Ini emas peninggalan VOC”
Memang ada huruf V, O dan C tercetak timbul membentuk logo VOC seperti yang sering saya lihat di buku sejarah.
“Semuanya ada satu ton.”
Busyet, kadal buntung. Siapa pula yang punya emas satu ton?
“Cuma empat ribu lima ratus per gram. Saya ikut sampeyan.”
Harga emas saat itu kalau tidak salah sekitar dua belas ribuan. Kalau yang ini harganya Rp 4.500 ………….. Menurut timbangan beras, batangan logam kuning itu punya berat 1 ons. Ups, mata saya hampir copot. Tidak perlu dibantu kalkulator, saya langsung bisa menghitung berapa keuntungan yang bakal saya dapat seandainya ……… Tanpa sadar, saya mulai menjadi rakus, dan saat itu pula nalar saya ketinggalan kereta.
“Tapi 1 ton harus dibeli semua, bos!”
Edan, duit embahmu po? Tapi lagi-lagi nalar saya sudah semakin jauh ketinggalan kereta. Dan sejuta gram emas itu tidak kepikiran lagi jumlah duitnya. Yang ada di kepala saya cuma untung, untung dan untung. Gede lagi!
Tidak berapa lama beberapa teman segera kumpul, dan kamipun langsung membahas “proyek besar”. Kesimpulan akhir memutuskan mencari investor. Dan itu tidak sulit. Menjelang malam sudah ada 6 investor bersedia bergabung. Total jenderal malam itu ada sebelas orang yang kehilangan nalar. Lalu keesokan harinya bertambah lagi menjadi tujuh belas setelah kami mendapatkan calon pembeli.
Agendapun disusun. Hari berikutnya empat diantara kami, terasuk saya, berangkat ke kelurahan Puring, Kebumen, untuk menemui pemilik emas. Pagi buta kami berangkat. Berkat semangat untung gede, hanya butuh waktu kurang dari dua jam untuk menempuh jarak sekitar 140 kilometer.
Walaupun akhirnya kami harus nongkrong di mobil hampir seharian, menunggu pemilik emas pulang kantor, tapi berhubung nalar sudah ketinggalan entah di mana, sesuatu yang mestinya terasa janggal jadi no problemo. Kami enjoy saja keleleran di seputar teras rumah.
Menjelang sore orang yang ditunggu baru nongol, dan ternyata dia bukan pemilk emas, tapi “tahu orang yang punya kuasa menjual emas”. Mestinya, ya, mestinya, saya segera sadar kalau ada yang janggal. Tapi bahkan sampai 2 hari kemudian, ketika kami masih saja selalu ketemu orang-orang yang ternyata hanya midle man, tidak satupun merasa aneh dengan transaksi yang mulai berbelit itu.
Hari ke 3 kami berada di nGawi, Jawa Timur. Dan terpaksa minta dikirim satu mobil lagi karena Panther Miyabi yang kami bawa tidak bisa menampung lebih dari 7 orang. Dari tempat satu ke tempat berikutnya penumpang selalu bertambah. Mereka semua makelar. Bahkan 2 hari kemudian, sampai mobil ke dua penuh, dan kami sudah menempuh jarak entah berapa ratus kilometer, pemilik atau orang yang konon punya kuasa jual belum ketemu.
Saya mulai jengkel, lalu memutuskan pulang. Para makelar itu saya lepas begitu saja disepanjang perjalanan balik ke Yogya. Tentu saja saya harus memberi sekedar uang transport. Tapi saya tidak keberatan karena batangan seberat satu ons boleh saya bawa.
Mestinya, sekali lagi, mestinya, saya harus curiga. Kalau itu emas betulan, mana mungkin pemiliknya melepas begitu saja tanpa ada jaminan? Apalagi melewati begitu banyak tangan. Padahal, saya sendiri bisa kalap tidak karuan ketika buku yang dipinjam teman dipinjamkan lagi pada orang lain yang tidak saya kenal.
Batangan kuning itu berada ditangan saya kurang lebih sekitar 2 minggu sebelum akhirnya saya mendapat kontak dari seseorang yang mengaku sebagai pemegang kuasa jual. Kalau Anda pikir orangnya segagah para konglomerat, Anda keliru besar. Penampilannya sedikit agak kumel, rambut acak-acakan seolah sudah lama tidak tersentuh sisir, kulit hitam legam terbakar sinar matahari dan telapak tangannya lebih kasar dari tangan tukang aduk semen di proyek pelebaran jalan depan kios. Orang itu datang naik bis kota setelah menempuh perjalanan dari Klaten juga mengunakan bis umum.
Klaten? Berhari-hari saya menempuh perjalanan jauh, muter-muter kesana kemari, ternyata yang dicari malah ngumpetnya cuma di Klaten. Hanya berjarak 47 kilometer dari kios. Edan.
Melihat penampilan pemegang kuasa jual yang tidak begitu meyakinkan, walaupun orang itu menunjukkan segepok dokumen, akal sehat saya mulai pulih. Dan saya memutuskan mundur pada saat teman-teman, yang jumlahnya semakin banyak, rame-rame berangkat ke Klaten.
Dua hari kemudian saya sempat menerima telepon dari rombongan yang ternyata sudah berada di Madura. Dalam bahasa polisi, informasinya A1 – tepat dan akurat. Barang positif ada. Mereka semua sudah melihat – dan untuk bisa melihat itu ternyata mereka harus bayar mahar 25 juta. Disaat pikiran mulai kacau dan nalar mulai surut, entah nemu ide dari mana, saya membawa emas batangan yang ternyata masih tertinggal di rumah, ke toko emas langganan keluarga.
Wajah pemilik toko nampak penuh derita setelah melihat batangan yang saya sodorkan. Lalu, setelah penampilan memelas itu reda, bak anak balita, saya digandeng masuk ke ruang kerja di balik dinding kaca. Ketika sampai di dalam, saya sempat melihat beberapa karyawan di luar nampak cekikikan.
“Ini punyaku.” Pemilik toko menunjukkan batangan berwarna kuning. Lebih mengkilap dan ukurannya lebih kecil. “Kamu pasti masih ingat pelajaran fisika di SMP, berat sama dengan volume dikali berat jenis. Kalau beratnya sama, volumenya lebih besar ……. ”
Saya tidak memerlukan penjelasan lebih jauh untuk segera menyadari bahwa logam kuning yang saya bawa bukan emas. Dan saya terpaksa harus rela saat pemilik toko akhirnya ngakak sampai wajahnya merah. Ternyata, wajah memelas tadi lantaran dia mati-matian menahan tertawa.
Saat Itu telepon seluler masih menggunakan teknoligi AMPS. Coverage areanya terbatas, dan jelas Madura belum terjangkau. Jadi saya tidak bisa berbuat banyak untuk memberi peringatan pada kawan-kawan di sana. Untungnya, saat itu prosedur bank masih ribet, ATM juga terbatas dan satu-satunya bank yang memiliki cabang sampai pelosok hanya BRI. Jadi teman-teman harus pulang ke Yogya dulu untuk transfer ke BRI, sehingga saya bisa mencegah mereka mengalami rugi besar-besaran. Saya sendiri menghabiskan lebih dari satu juta untuk biaya perjalanan awal
Langganan:
Postingan (Atom)